Rabu, 14 Juni 2017

Fayakhun Andriadi: Ancaman Perang Mayantra

Fayakhun Andriadi, Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, adalah anak keempat dari 5 bersaudara pasangan Ir. Haditirto Djoyodirdjo dan Etty Artiadi. Fayakhun berasal dari keluarga pekerja keras. Di usia 23 tahun, ia mengabdikan diri sebagai dosen jurusan Elektro, Fakultas Teknik Universitas Semarang. Politisi muda yang sekarang menjadi anggota DPR RI ini semenjak kecil telah terbiasa berprestasi dan mengikuti berkembangan zaman. Selain sibuk di dunia politik, Fayakhun masih menyempatkan diri berbagi pemikiran melalui tulisan-tulisannya. Beberapa tulisannya membahas mengenai “teknologi” yang menjadi salah satu bidang keahliannya.

Fayakhun Andriadi: Ancaman Perang Mayantra


Dalam salah satu bukunya yang berjudul “Demokrasi di Tangan Netizen”, Fayakhun Andriadi mengemukakan bahwa pada tahun 1991 tanda-tanda kecil perang mayantara perlahan meletup. Seseorang di angkatan udara Irak melaporkan adanya virus komputer bernama AF/91. Virus ini sengaja diciptakan dan telah terinstal pada chip printer untuk membuat jalan masuk ke Irak melalui Amman, Yordania. Tugas virus ini adalah membuat kerusakan senjata anti-pesawat Irak (Noor Pramadi: 2010). Bahkan Indonesia sendiri merasakan ancaman serangan siber jauh sebelum internet booming di negeri ini.

Dalam buku Inside Cyber Warfare (2011), Jeffrey Carr mengisahkan sebuah kejadian pada 1998, tepat setelah kejadian kerusuhan Mei 1998. Saat itu, menyebar gerakan anti-Cina yang berujung pada terjadinya aksi kriminal terhadap warga etnis ini. Tak lama setelah kejadian tersebut, muncul komunitas hacker yang mendeklarasikan diri dengan nama Hacker Emergency Meeting Center. Mereka memiliki anggota yang berjumlah sekitar 3.000 orang hackers. Mereka berasal dari negeri Tiongkok. Para hacker tersebut menyerang website milik pemerintah Indonesia sebagai reaksi atas kejadian yang sangat merugikan warga keturunan Tiongkok tersebut.

Berdasarkan kronologi kejadiannya, fayakhun andriadi mengindikasi perang mayantara sudah mulai muncul semenjak tahun 1991. Setelah itu, mulai mengalami peningkatan yang cukup pesat semenjak tahun 2007 dan berlanjut hingga saat ini.

Sebenarnya, jauh sebelum era teknologi digital muncul, tepatnya pada tahun 400-320 SM, SunTzu, ahli strategi perang legendaris, pernah mengatakan bahwa mengalahkan pasukan lawan tanpa bertempur adalah keutamaan suatu keunggulan. Kini, di abad yang serba digital, dengan internet sebagai pemungkasnya, strategi itu hidup kembali. Seolah sedang bangkit dari kuburnya.

Era digital dibayangi resiko terjadinya perang mayantara lintas negara. Satu yang unik dari perang ini adalah tidak ada pertempuran dalam pengertian nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar