Fayakhun Andriadi, Ketua DPD Partai Golkar DKI
Jakarta, adalah anak keempat dari 5 bersaudara pasangan Ir. Haditirto
Djoyodirdjo dan Etty Artiadi. Fayakhun berasal dari keluarga pekerja keras. Di
usia 23 tahun, ia mengabdikan diri sebagai dosen jurusan Elektro, Fakultas
Teknik Universitas Semarang. Politisi muda yang sekarang menjadi anggota DPR RI
ini semenjak kecil telah terbiasa berprestasi dan mengikuti berkembangan zaman.
Selain sibuk di dunia politik, Fayakhun masih menyempatkan diri berbagi
pemikiran melalui tulisan-tulisannya. Beberapa tulisannya membahas mengenai
“teknologi” yang menjadi salah satu bidang keahliannya.
Dalam salah satu bukunya yang berjudul
“Demokrasi di Tangan Netizen”, Fayakhun Andriadi mengemukakan bahwa pada tahun
1991 tanda-tanda kecil perang mayantara perlahan meletup. Seseorang di angkatan
udara Irak melaporkan adanya virus komputer bernama AF/91. Virus ini sengaja
diciptakan dan telah terinstal pada chip printer untuk membuat jalan
masuk ke Irak melalui Amman, Yordania. Tugas virus ini adalah membuat kerusakan
senjata anti-pesawat Irak (Noor Pramadi: 2010). Bahkan Indonesia sendiri
merasakan ancaman serangan siber jauh sebelum internet booming di negeri
ini.
Dalam buku Inside Cyber Warfare (2011),
Jeffrey Carr mengisahkan sebuah kejadian pada 1998, tepat setelah kejadian
kerusuhan Mei 1998. Saat itu, menyebar gerakan anti-Cina yang berujung pada
terjadinya aksi kriminal terhadap warga etnis ini. Tak lama setelah kejadian
tersebut, muncul komunitas hacker yang mendeklarasikan diri dengan nama Hacker
Emergency Meeting Center. Mereka memiliki anggota yang berjumlah sekitar
3.000 orang hackers. Mereka berasal dari negeri Tiongkok. Para hacker
tersebut menyerang website milik pemerintah Indonesia sebagai reaksi atas
kejadian yang sangat merugikan warga keturunan Tiongkok tersebut.
Berdasarkan kronologi kejadiannya, fayakhun andriadi mengindikasi
perang mayantara sudah mulai muncul semenjak tahun 1991. Setelah itu, mulai
mengalami peningkatan yang cukup pesat semenjak tahun 2007 dan berlanjut hingga
saat ini.
Sebenarnya, jauh sebelum era teknologi digital
muncul, tepatnya pada tahun 400-320 SM, SunTzu, ahli strategi perang
legendaris, pernah mengatakan bahwa mengalahkan pasukan lawan tanpa bertempur
adalah keutamaan suatu keunggulan. Kini, di abad yang serba digital, dengan
internet sebagai pemungkasnya, strategi itu hidup kembali. Seolah sedang
bangkit dari kuburnya.
Era digital dibayangi resiko terjadinya perang
mayantara lintas negara. Satu yang unik dari perang ini adalah tidak ada
pertempuran dalam pengertian nyata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar