Meski berasal dari keluarga pendiri partai
Golkar, Fayakhun Andriadi membutuhkan pemikiran jernih untuk memutuskan dirinya
memilih Golkar. Setelah ia memutuskan peduli politik, maka ia menyadari bahwa saluran
tertinggi dalam politik adalah ikut partai politik. Pada tahap ini muncul lagi
pertimbangan baru dalam rasionya, yakni menentukan partai politik. Proses
penentuan untuk ikut partai politik ini berlangsung sangat lama hingga era
reformasi muncul. Partai-partai pun bermunculan. Sebagai anak tokoh politik,
ditambah kondisi ekonominya yang sudah sangat mapan, tawaran dari banyak partai
pun datang kepadanya.
Saat itu ia berpikir, “Saya ini mau ikut
partai kecil, dan langsung jadi kepala teri, atau saya ikut partai besar jadi
buntut ikan hiu, atau buntut naga”. Pertimbangan itu terus dibawanya, hingga
pada akhirnya, sekitar tahun 2002, Fayakhun memutuskan untuk bergabung dengan
partai besar dengan pertimbangan,
“Untuk apa saya jadi kepala teri kalau
akhirnya ukurannya hanya sebesar teri. Artinya, saya cepat puas, cepat senang,
tetapi sebetulnya tempaannya atau penggodokannya tidak maksimal. Ga apa-apa
saya jadi buntut naga tetapi disitu saya ditempa, digodok, sehingga ketika
suatu ketika saya jadi kepala naga, maka itu pasti sudah melalui tempaan luar
biasa dan itu pasti tangguh,”tuturnya.
Dalam posisi ini, Fayakhun pun masih
diselimuti kebingungan ketika menentukan partai besar yang mana yang akan dia
pilih. Saat itu pada awal tahun 2000, ada beberapa partai besar seperti PDI
Perjuangan, Partai Golkar, PPP, PKB, PAN, dan lainnya. Namun setelah berfikir
jernih, akhirnya ia melabuhkan pilihan pada Partai Golkar. Ada tiga
pertimbangan utama mengapa ia memilih partai golkar :
Pertama, Sumber Daya Manusia Partai. Dibanding
partai lain, menurut Fayakhun, Partai Golkar memiliki sumber daya manusia yang
sangat teruji, terlatih, pintar-pintar, educated, dan mapan. SDM partai Golkar
tangguh, mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Dari segi kuantitas pun sangat
banyak, sudah menyebar di seantero nusantara.
Kedua, Infrastruktur Partai Golkar juga sudah
establish hingga tongkat kecamatan dan desa sekalipun. Yang bisa menyaingi
dalam hal infrastruktur ini –pada awal tahun 2000 itu—hanya PDI Perjuangan.
Tetapi menurut Fayakhun Andriadi Partai Golkar masih lebih baik.
Ketiga, Demokratis. Di kala partai besar lain
masih banyak dibayangi “kepemimpinan kharismatis” dan “tokoh sentral”, Partai
Golkar sudah menunjukkan diri sebagai partai modern dan demokratis. Tidak ada
tokoh sentral, semua orang punya kesempatan sama untuk menjadi pimpinan, tak
peduli dari garis keturunan siapapun atau etnis manapun. Partai pada akhirnya
menjadi sangat dinamis dan kompetitif. Yang melaju pasti yang teruji dan kader
terbaik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar