Rabu, 07 Juni 2017

Fayakhun Andriadi Memilih Golkar karena SDM-nya Teruji

Meski berasal dari keluarga pendiri partai Golkar, Fayakhun Andriadi membutuhkan pemikiran jernih untuk memutuskan dirinya memilih Golkar. Setelah ia memutuskan peduli politik, maka ia menyadari bahwa saluran tertinggi dalam politik adalah ikut partai politik. Pada tahap ini muncul lagi pertimbangan baru dalam rasionya, yakni menentukan partai politik. Proses penentuan untuk ikut partai politik ini berlangsung sangat lama hingga era reformasi muncul. Partai-partai pun bermunculan. Sebagai anak tokoh politik, ditambah kondisi ekonominya yang sudah sangat mapan, tawaran dari banyak partai pun datang kepadanya.
Fayakhun Andriadi Memilih Golkar karena SDM-nya Teruji



Saat itu ia berpikir, “Saya ini mau ikut partai kecil, dan langsung jadi kepala teri, atau saya ikut partai besar jadi buntut ikan hiu, atau buntut naga”. Pertimbangan itu terus dibawanya, hingga pada akhirnya, sekitar tahun 2002, Fayakhun memutuskan untuk bergabung dengan partai besar dengan pertimbangan,

“Untuk apa saya jadi kepala teri kalau akhirnya ukurannya hanya sebesar teri. Artinya, saya cepat puas, cepat senang, tetapi sebetulnya tempaannya atau penggodokannya tidak maksimal. Ga apa-apa saya jadi buntut naga tetapi disitu saya ditempa, digodok, sehingga ketika suatu ketika saya jadi kepala naga, maka itu pasti sudah melalui tempaan luar biasa dan itu pasti tangguh,”tuturnya.
Dalam posisi ini, Fayakhun pun masih diselimuti kebingungan ketika menentukan partai besar yang mana yang akan dia pilih. Saat itu pada awal tahun 2000, ada beberapa partai besar seperti PDI Perjuangan, Partai Golkar, PPP, PKB, PAN, dan lainnya. Namun setelah berfikir jernih, akhirnya ia melabuhkan pilihan pada Partai Golkar. Ada tiga pertimbangan utama mengapa ia memilih partai golkar :  

Pertama, Sumber Daya Manusia Partai. Dibanding partai lain, menurut Fayakhun, Partai Golkar memiliki sumber daya manusia yang sangat teruji, terlatih, pintar-pintar, educated, dan mapan. SDM partai Golkar tangguh, mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Dari segi kuantitas pun sangat banyak, sudah menyebar di seantero nusantara.

Kedua, Infrastruktur Partai Golkar juga sudah establish hingga tongkat kecamatan dan desa sekalipun. Yang bisa menyaingi dalam hal infrastruktur ini –pada awal tahun 2000 itu—hanya PDI Perjuangan. Tetapi menurut Fayakhun Andriadi Partai Golkar masih lebih baik.


Ketiga, Demokratis. Di kala partai besar lain masih banyak dibayangi “kepemimpinan kharismatis” dan “tokoh sentral”, Partai Golkar sudah menunjukkan diri sebagai partai modern dan demokratis. Tidak ada tokoh sentral, semua orang punya kesempatan sama untuk menjadi pimpinan, tak peduli dari garis keturunan siapapun atau etnis manapun. Partai pada akhirnya menjadi sangat dinamis dan kompetitif. Yang melaju pasti yang teruji dan kader terbaik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar